Kesalahan Yang Lalu

Akhlak yang baik akan melunturkan kesalahan yang lalu, seperti mentari melumerkan es yang beku. (Ibnu Abbas)

Jika dihitung-hitung, rasanya banyak sekali kesalahan yang kita lakukan di masa lalu. Banyak sekali rasa penyesalan yang datang menyerbu. Memang manusia, letaknya lupa dan dosa. Sempat terbayang, rasanya tak bisa menebus itu semua.

Berhenti, cukup sampai di sini saja. Hidayah tak akan datang hanya dengan berdiam tanpa melakukan apa-apa. Hikmah akan tampak kepada siapa-siapa yang menjemputnya. Sekalipun dengan niat yang kecil rupanya. Meskipun melangkah dengan jarak hanya sehasta.

Ingatlah bahwa Allah SWT Maha Pemaaf lagi Maha Pemelihara. Jika kita kembalikan semua kepada-Nya, niscaya Dia akan senantiasa menunjukkan jalan-Nya. Jika kita bertaubat dengan kesungguhan, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosa kita.

Maka damaikanlah diri ini dengan masa lalu. Mulai hari ini, melangkahlah untuk terus maju. Awali dengan akhlak yang baik sebagai dasar perubahan. Karena dengan akhlak yang baik, akan melunturkan kesalahan-kesalahan. Karena dengan akhlak yang baik, di akhirat akan memberatkan timbangan. Karena dengan akhlak yang baik, akan membawa kebaikan untuk kehidupan yang sekarang dan yang akan datang.

 

Menyikapi Masa Lalu

Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. (An-Nisa’ : 149)

Masa lalu merupakan bagian dari hidup kita. Setiap dari kita pasti memilikinya. Namun tidak semua masa lalu itu sempurna. Ada beberapa hal yang bersifat tercela, ada beberapa saat yang membuat kecewa. Sehingga bagaimana sikap kita terhadap masa lalu adalah yang paling utama.

Kepada Masa Lalu Kita

Banyak hal yang kita jalani di masa lalu. Dan tidak semuanya sesuai dengan apa yang kita mau. Hal-hal yang menyakitkan, maupun mengecewakan pasti pernah kita lalui. Kesalahan dalam bertindak maupun keburukan dalam berbuat pernah kita jalani. Tapi beruntunglah hanya Allah dan diri ini yang mengetahui.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seluruh umatku mu’afa (dimaafkan dosanya), kecuali orang yang melakukan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan dengan terang-terangan yaitu, seseorang melakukan sesuatu perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam, lalu dia masuk pada waktu pagi, kemudian mengatakan: “Hai, Fulan! Kemarin malam aku telah melakukan demikian dan demikian”. Dia telah melewati malamnya dengan ditutupi (kemaksiatannya) oleh Rabb-nya (Penguasanya, Allah), dan dia masuk pada waktu pagi menyingkapkan tirai Allah darinya.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka bukankah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Mengetahui. Allah saja mau menutupi masa lalu ini. Yang terkadang bagi kita sulit diterima hingga saat ini. Lantas sebagai pribadi yang terpuji, hendaklah kita jangan menceritakan aib diri sendiri. Janganlah mengumbar keburukan masa lalu kepada siapapun, termasuk pasangan kelak nanti. Karena Allah sudah berbaik hati menutupi. Itulah jalan untuk memperbaiki diri. Itulah jalan untuk bertaubat dan tidak mengulangi keburukan itu lagi.

Sehingga teruslah berbuat kebaikan, karena akhlak yang baik akan melunturkan kesalahan yang lalu, seperti mentari melumerkan es yang beku (Ibnu Abbas). Janganlah lelah untuk terus bertaubat, karena Rasulullah SAW bersabda, “Setiap manusia banyak berbuat salah (dosa). Dan sebaik-baik dari orang-orang banyak berbuat salah (dosa) adalah orang-orang yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Kepada Masa Lalu Dia

Semua orang pasti pernah melalui hal yang mengecewakan dan membuat kecewa. Namun masing-masing ukurannya tidaklah sama. Tidak bisa kita bandingkan dengan diri kita. Kita juga tidak tahu perjuangan seperti apa yang pernah dilaluinya. Maka, janganlah menghakiminya dengan sudut pandang kita. Dan dahulukanlah prasangka baik ketika berjumpa dengannya.

Jika dia bercerita tentang masa lalunya, janganlah kita memviralkannya. Tutuplah aibnya dari siapapun juga. Tinggalkan sifat yang sebetulnya itu buruk, yaitu menyukai drama. Drama yang mempertontonkan aib seseorang. Drama yang memperlihatkan kehebohan aib dengan gamblang. Karena Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah SWT sudah sangat baik dengan menutupi masa lalu hamba-Nya. Maka janganlah memaksa seseorang untuk bercerita tentang masa lalunya. Karena Allah saja mau menutupinya, lantas mengapa kita yang sekedar hamba-Nya seakan-akan melangkahinya? Cukuplah terima dia dengan segala keinginannya untuk memperbaiki diri. Bantulah dia agar terus berada di jalan yang Allah ridhoi. Yang paling inti, maafkanlah dia agar kita mendapatkan hati yang damai. Karena dengan memberi maaf yang punya khilaf, menentramkan hatinya. Dengan memberi maaf pada yang tak merasa bersalah, menentramkan hati kita. (Salim A. Fillah)

 

Tanda Diterimanya Amal

Tanda bahwa amal kebaikanmu telah diterima adalah bahwa kamu melakukan lebih banyak amal kebaikan setelah itu. (Ibnu Rajab)

Maka patutlah bertanya pada diri kita, bahwa apakah amal yang kita lakukan telah diterima? Mudah saja cara memeriksanya. Apakah dengan amal tersebut telah bertambah perbuatan baik kita? Semoga ini menjadi refleksi diri di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini. Semoga kebaikan akan terus menerus kita lakukan.

 

Harumnya Orang Berpuasa

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada harum kasturi.” (HR. Muslim)

Maka jadikanlah puasa kali benar-benar harum, bukan hanya di akhirat tetapi juga di dunia. Dengan berucap yang baik-baik saja. Dengan menghindari pembicaraan yang berujung kepada dosa. Semoga kita diberi perlindungan dari berkata yang buruk dan tercela. Semoga harumnya mulut kita membawa kenyamanan kepada sekitar kita.

 

Berkah dalam Sahur

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ialah berkah yang membuat segalanya menjadi mudah. Karena kita tahu bahwa turunnya dari Allah SWT Sang Pemberi Rahmah. Karena berkah, segala kebaikan akan datang. Berbuat kebaikan pun menjadi tak sungkan-sungkan.

Maka ketika bersahur mendapat keberkahan, puasa kita menjadi tambah akan kebaikan-kebaikan. Menjadi semangat berbuat dan menyebarkan kebajikan. Semoga kita semua senantiasa diberi kesempatan untuk bersantap sahur. Agar berkah turun mengguyur. Agar kebaikan juga terus tumbuh subur.

 

Hijrah yang Sepenuhnya

Kata hijrah sudah tidak asing di telinga kita. Kata ini sudah banyak didengarkan di sosial media. Mulai dari komunitas, kajian oleh para ustadz, maupun tulisan-tulisan yang berkaitan dengannya. Namun, beberapa dari kita mungkin masih ragu maupun bertanya-tanya akan arti sebenarnya.

Hijrah menurut bahasa ialah berpindah, menjauhi, atau menghindari. Jika dalam konteks hijrahnya Nabi Muhammad SAW, beliau hijrah dari Mekkah menuju Madinah untuk menghindari kekufuran dan menuju keimanan. Maka selain menghindari, hijrah juga bermaksud menuju kebaikan. Sehingga hijrah jika dikaitkan dengan zaman sekarang adalah segala upaya untuk berpindah, menjauhi, serta menghindari segala keburukan untuk kemudian menuju ke kebaikan.

Niatkanlah hijrah kita hanya untuk Allah SWT semata sehingga hijrah kita benar-benar meninggalkan keburukan sepenuhnya. Sehingga hijrah ini membawa kebaikan kepada semua. Baik bagi kita maupun lingkungan sekitar kita. Bukan justru membawa ketidak nyamanan bagi yang merasa. Bukan justru merasa baik dalam segalanya sehingga yang lain dianggap tidak ada apa-apanya. Karena hijrah adalah berpindah dari keburukan kepada kebaikan, bukan berpindah dari satu keburukan kepada keburukan yang lain.

Maka jadikanlah hijrah ini bagi kawan-kawan yang belum sepemahaman, adalah sebuah pelita. Yang memberi petunjuk dalam gelap gulita. Yang senantiasa nyaman ketika berada di dekatnya. Jadikanlah hijrah ini semakin mendatangkan kebaikan-kebaikan lainnya. Bukan menjadikan diri menjadi antipati dan besar kepala. Karena hanya Allah-lah Yang Maha Suci dan Sempurna.

Semoga kita senantiasa diberi hidayah untuk berhijrah. Karena tidak ada kenikmatan terbaik selain hikmah. Semoga dalam berhijrah kita senantiasa diberi rasa istiqomah. Agar hati ini tetap gagah dan tidak goyah. Semoga dengan hijrah kita, dapat memperkokoh ukhuwah. Karena dengan terus berjamaah, hidup ini akan menjadi semakin indah.

Hijrah adalah memperbaiki diri agar menjadi penyabar bukan pencibir, agar menjadi penyapa bukan pencela. – Ustadz Salim A. Fillah