Menyikapi Masa Lalu

Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. (An-Nisa’ : 149)

Masa lalu merupakan bagian dari hidup kita. Setiap dari kita pasti memilikinya. Namun tidak semua masa lalu itu sempurna. Ada beberapa hal yang bersifat tercela, ada beberapa saat yang membuat kecewa. Sehingga bagaimana sikap kita terhadap masa lalu adalah yang paling utama.

Kepada Masa Lalu Kita

Banyak hal yang kita jalani di masa lalu. Dan tidak semuanya sesuai dengan apa yang kita mau. Hal-hal yang menyakitkan, maupun mengecewakan pasti pernah kita lalui. Kesalahan dalam bertindak maupun keburukan dalam berbuat pernah kita jalani. Tapi beruntunglah hanya Allah dan diri ini yang mengetahui.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seluruh umatku mu’afa (dimaafkan dosanya), kecuali orang yang melakukan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan dengan terang-terangan yaitu, seseorang melakukan sesuatu perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam, lalu dia masuk pada waktu pagi, kemudian mengatakan: “Hai, Fulan! Kemarin malam aku telah melakukan demikian dan demikian”. Dia telah melewati malamnya dengan ditutupi (kemaksiatannya) oleh Rabb-nya (Penguasanya, Allah), dan dia masuk pada waktu pagi menyingkapkan tirai Allah darinya.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka bukankah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Mengetahui. Allah saja mau menutupi masa lalu ini. Yang terkadang bagi kita sulit diterima hingga saat ini. Lantas sebagai pribadi yang terpuji, hendaklah kita jangan menceritakan aib diri sendiri. Janganlah mengumbar keburukan masa lalu kepada siapapun, termasuk pasangan kelak nanti. Karena Allah sudah berbaik hati menutupi. Itulah jalan untuk memperbaiki diri. Itulah jalan untuk bertaubat dan tidak mengulangi keburukan itu lagi.

Sehingga teruslah berbuat kebaikan, karena akhlak yang baik akan melunturkan kesalahan yang lalu, seperti mentari melumerkan es yang beku (Ibnu Abbas). Janganlah lelah untuk terus bertaubat, karena Rasulullah SAW bersabda, “Setiap manusia banyak berbuat salah (dosa). Dan sebaik-baik dari orang-orang banyak berbuat salah (dosa) adalah orang-orang yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Kepada Masa Lalu Dia

Semua orang pasti pernah melalui hal yang mengecewakan dan membuat kecewa. Namun masing-masing ukurannya tidaklah sama. Tidak bisa kita bandingkan dengan diri kita. Kita juga tidak tahu perjuangan seperti apa yang pernah dilaluinya. Maka, janganlah menghakiminya dengan sudut pandang kita. Dan dahulukanlah prasangka baik ketika berjumpa dengannya.

Jika dia bercerita tentang masa lalunya, janganlah kita memviralkannya. Tutuplah aibnya dari siapapun juga. Tinggalkan sifat yang sebetulnya itu buruk, yaitu menyukai drama. Drama yang mempertontonkan aib seseorang. Drama yang memperlihatkan kehebohan aib dengan gamblang. Karena Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah SWT sudah sangat baik dengan menutupi masa lalu hamba-Nya. Maka janganlah memaksa seseorang untuk bercerita tentang masa lalunya. Karena Allah saja mau menutupinya, lantas mengapa kita yang sekedar hamba-Nya seakan-akan melangkahinya? Cukuplah terima dia dengan segala keinginannya untuk memperbaiki diri. Bantulah dia agar terus berada di jalan yang Allah ridhoi. Yang paling inti, maafkanlah dia agar kita mendapatkan hati yang damai. Karena dengan memberi maaf yang punya khilaf, menentramkan hatinya. Dengan memberi maaf pada yang tak merasa bersalah, menentramkan hati kita. (Salim A. Fillah)

 

Dengan Memberi Maaf

Memberi maaf pada yang merasa punya khilaf, menentramkan hatinya. Memberi maaf pada yang tak merasa bersalah, menentramkan hati kita. (Ustadz Salim A. Fillah)

Dengan memberi maaf, kita juga memberi ketentraman kepada semua. Karena siapa saja berhak merasa tentram, termasuk diri kita. Maka berilah maaf tanpa pandang yang salah siapa. Berilah maaf tanpa dipinta siapa-siapa. Semoga kita semua selalu diberi rasa memaafkan kepada siapa saja.

 

Antara Kata dengan Suara

Saat ini adalah era dimana berpendapat lebih leluasa. Berbagai sarana dengan mudah kita mempergunakannya. Sosial media adalah salah satu contohnya. Komentar  dengan mudah dilayangkan melalui tangan kita. Baik itu komentar yang baik dan bijak hingga yang kasar dan mencerca.

Pendapat yang kita sampaikan dengan penuh kesadaran adalah mencerminkan buah pikiran. Segala komentar maupun postingan, bisa menghasilkan berbagai persepsi yang berlainan. Dan kembali lagi ke diri masing-masing dalam menentukan pilihan. Ingin memberi kebaikan atau keburukan. Ingin esensi yang tersampaikan atau nafsu yang diluapkan.

Maka pilihlah selalu kebaikan. Walaupun dirimu dirundung kemarahan. Meskipun hatimu diberi kekecewaan. Gunakanlah kata yang baik dalam menyampaikan. Sebab itu mencerminkan apa yang kita pikirkan. Angkat dan tingkatkanlah kualitas kata-kata karena itu yang nantinya akan didengarkan. Sehingga sampailah maksud dan tujuan.

Terkadang pendapat yang disampaikan dengan kata yang baik akan lebih mudah dipahami daripada yang disuarakan dengan kencang. Karena kata tersebut tersusun untuk dipahami daripada suara yang dikeluarkan untuk berharap atensi. Karena kata kata yang disampaikan dari hati lebih baik daripada komentar dengan suara yang menyakiti. Karena dengan kata yang baik orang menjadi tertarik. Dengan kata yang lembut, hati menjadi tersentuh. Dengan kata penuh makna, itu lebih baik dari seribu suara tapi tidak ada isinya.

Semoga hati dan pikiran senantiasa selalu diberi kebaikan, sehingga apa yang disampaikan juga kebaikan. Semoga kita selalu diberi kemudahan dalam hal menyampaikan. Semoga selalu diberi pemahaman yang baik terhadap orang yang ingin kita sampaikan.

Angkat kata-katamu, bukan suaramu. Karena hujan yang menumbuhka bunga, bukan petir yang menggelegar dunia. – Jalaluddin Rumi

 

Antara Bersyukur dengan Musibah

Musibah pasti pernah datang ke semua orang. Mungkin kita tidak tahu sekarang, atau apa yang tampak di depan. Namun, masa lalu orang siapa yang paham. Bisa jadi dahulu sekali musibah datang. Dan sekarang dia telah melampuinya dengan perjuangan. Musibah pasti datang, tinggal bagaimana kita memberi tanggapan. Apakah kita dapat mengambil pelajaran, atau justru angkat tangan tanpa perjuangan.

Musibahlah yang menjadikan nikmat semakin terasa. Kehilanganlah yang membuat kita tahu bahwa ternyata hal itu berharga. Itulah hukum alam semesta. Selalu ada segala yang berlawanan makna. Tanpa ada hujan, pelangi takkan menampakkan warnanya ke bumi. Tanpa ada duka, hal yang bahagia menjadi terasa biasa-biasa saja. Tanpa ada musibah, mungkin kita akan lupa mensyukuri segala nikmat dan anugerah.

Terkadang kita harus bersyukur terhadap musibah. Karena turunnya, merupakan bagian dari rencana Allah SWT Yang Maha Indah. Karena datangnya, banyak membawa hikmah. Baik hikmah yang datangnya dengan tamparan, maupun dengan kelembutan. Baik hikmah yang datangnya di jemput sendiri, maupun dengan perantara lingkungan sekitar kita. Sebab dengan hikmah, Allah SWT turunkan kebaikan yang melipah.

Semoga kita semua senantiasa diberi rasa syukur. Bahkan ketika tertimpa musibah sekalipun. Semoga kita semua selalu diberi hati dan pikiran yang lapang untuk mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Semoga dengan hikmah yang kita terima, membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ibarat mentari yang telah lama menyediakan warna-warninya. Tapi uap sebakda hujan yang tampilkan pelanginya. Kadang musibahlah, yang menikmatkan nikmat. – Ustadz Salim A. Fillah

 

Antara Hati dengan Bunga

Jalan yang mudah tidak selalu dijanjikan pada hidup yang kita lalui. Pasti suatu saat ada masanya kita turun, ada masanya pula kita mendaki. Mungkin saat ini kita sedang diperlakukan baik dan dipuji, namun suatu hari pasti ada orang yang memaki dan menyakiti. Di sinilah kualitas hati kita sedang diuji. Apakah kita menyimpan dendam dengan orang yang menyakiti ataukah memaafkan segala apa yang terjadi. Apakah kita tetap berkarya atau justru putus asa.

Bunga adalah simbol dari keindahan. Segala apa yang terletak padanya memang indah. Mulai dari kelopaknya yang merangkai menjadi suatu bentuk yang indah. Hingga harumnya yang menarik dan membuat indah indra penciuman kita. Namun, keindahan yang utama yang ada pada bunga ialah keteguhan. Keteguhan dalam memberikan keindahan. Karena meskipun dihancurkan, bunga tetap saja memberikan harumnya.

Ternyata hati kita ibarat bunga. Hati tetap bisa memberikan kebaikan kepada orang yang telah memaki kita. Hati tetap bisa memaafkan kepada orang yang telah menyakiti kita. Hati tetap bisa membimbing tubuh dan pikiran agar terus berkarya. Ibarat bunga yang tetap memberikan harumnya, bahkan kepada tangan orang yang menghancurkannya.

Maka, janganlah menyimpan dendam terhadap orang yang. Buanglah rasa dendam karena jika tidak, hatimu tidak akan indah lagi. Seperti kata Ustadz Salim A. Fillah, karena dendam itu ibarat kita minum racun dan berharap orang lain yang mati. Dan janganlah terlalu sedih terhadap caci maki karena bisa jadi itu yang membuat kita menjadi lebih baik lagi. Serta janganlah menjadi putus asa karena patut diingat mengapa sejak awal kita memulai. Karena sesungguhnya hati ini terlalu berharga jika dipenuhi dengan hal-hal yang merugi.

Semoga kita senantiasa diberi hati bagai bunga. Yang tetap berusaha memaafkan walau diberi rasa kecewa. Tetap menerima segala makian sebagai pembangun diri agar lebih berguna. Tetap berusaha berkarya, walau ujian datang merajalela.

Hatimu ibarat bunga, tetap memberikan harumnya meskipun kepada tangan yang menghancurkannya. – Ali bin Abi Thalib

 

Antara Syukur dengan Rasa

Rasa adalah tanggapan hati akan segala peristiwa. Rasa bahagia jika kita menerima segala kebaikan yang ada. Rasa cinta membuat hidup lebih berwarna karena ada yang terkasih di sekitar kita. Namun, rasa yang lebih baik dari itu semua adalah rasa syukur.

Syukur adalah sebuah rasa. Tidak seperti bahagia yang membuat hati kita berbunga-bunga. Tidak seperti cinta yang membuat hati kita berdegup gembira. Namun, rasa syukurlah yang membuat kita bahagia dan merasakan cinta.

Ialah syukur, sebuah rasa yang membuat hati kita selalu merasa tenang. Yang membuat hati ini merasa lega akan segalanya. Karena ini adalah tentang kecukupan. Selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah berikan. Selalu merasa puas dengan perolehan kebaikan-kebaikan yang terjadi pada diri. Sehingga kebahagiaan terus menyertai. Membuat kita terus memuji. Terus mengingati. Dan terus mengunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.

Tidak seperti kufur, yaitu lawannya syukur. Yang berarti menutup diri dari segala kemungkinan bahwa nikmat itu Allah yang memberikan. Sehingga selalu merasa kurang dan hati menjadi tidak tenang. Kesehariannya hanya dipenuhi keluhan. Adakah diri kita merasa demikian? Semoga kita selalu dihindarkan.

Ialah syukur, sebuah rasa tentang pengakuan. Pengakuan bahwa segala nikmat yang ada adalah sebuah pemberian. Bukan semata-mata muncul karena kebetulan. Melainkan itu semua dari Allah SWT Yang Maha Mengayakan. Sehingga membuat kita merasakan cinta. Kepada yang memberikan segalanya kepada kita. Dibuktikan dengan ketaatan kita kepada-Nya.

Maka, bersyukurlah jika kita masih memiliki rasa syukur. Yaitu  rasa syukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Karena rasa syukur itu sendiri adalah sebuah nikmat yang Allah turunkan. Karena syukur itu sendiri adalah sebuah rasa yang Allah ilhamkan. Semoga kita semua senantiasa diberi ilham untuk tetap mensyukuri nikmat yang Allah anugerahkan.

Doa Bersyukur

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي  أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ  وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. – (QS. An-Naml : 19)