Berpuasa dengan Tidak Mencela

Salah satu indikator berhasilnya puasa adalah dengan menahan hawa nafsu kita. Baik itu nafsu yang ada di tangan, lisan, maupun yang ada di mata. Sehingga setiap apa yang akan kita lakukan dan bicarakan harus kita jaga.

Menjaga lisan adalah hal yang tersulit dalam berpuasa. Bagaimana tidak, setiap hari kita berjumpa dengan orang lain baik di dunia nyata maupun di sosial media. Rasanya ingin saja mengomentari setiap perilaku mereka. Tapi sesungguhnya, setiap ganjaran sebanding dengan kesulitannya.

Maka dari itu, saling menjaga lisan adalah sebuah keutamaan. Janganlah menghakimi orang lain terhadap apa yang sedang mereka lakukan. Agar orang lain tidak merasa terganggu atau dirugikan. Agar kita bisa saling menghargai dan menghormati antara sesama insan.

Semoga kita di bulan Ramadhan semakin bisa menjaga lisan. Baik yang disalurkan secara ucapan maupun tulisan. Semoga hal yang tercela selalu dihindarkan dari diri kita sekalian.

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Abu Khaitsamah] dari [Humaid] ia berkata; [Anas] pernah ditanya mengenai puasa Ramadhan saat berada dalam perjalanan, lalu ia menjawab, “Kami dulu pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan, namun orang yang berpuasa tidaklah mencela orang yang berbuka, dan yang berbuka juga tidak mencela orang yang berpuasa.”

(HR. Muslim)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *