Antara Perbuatan dengan Pelakunya

Setiap perbuatan baik atau buruk pasti ada pelakunya. Namun setiap pelaku, suatu saat akan lepas dan meninggalkan apa yang diperbuatnya. Maka, antara perbuatan dan pelaku adalah hal yang berbeda. Kita tidak bisa menghakimi pelaku dari perbuatannya. Kita juga tidak bisa menyimpulkan perbuatan dari pelakunya.

Bencilah Maksiat, tapi Sayangi Pendosanya

Perbuatan maksiat sudah pasti dibenci Rasulullah SAW dan Allah SWT. Dan kita juga harus turut menjauhinya. Tapi karena antara perbuatan dan pelakunya adalah hal yang berbeda, maka kita harus tetap sayangi pendosanya.

Orang yang melakukan maksiat pasti mendapat dosa. Akan tetapi, pintu taubat selalu terbuka untuknya. Jika dia telah meninggalkan perbuatannya, maka dia adalah bagian dari kita. Jika dia telah memohon ampun kepada-Nya, niscaya hapuslah dosa-dosanya. Sehingga bisa jadi dia lebih mulia daripada kita. Jangan sampai kita lupa, bahwa hanya Allah-lah yang bisa membolak-balikkan hati hamba-Nya.

Janganlah kita menyerah kepada pendosa. Apalagi sampai membantu setan dengan menghinanya dan melaknatinya. Jangan pula kita menghakimi dan mencaci. Karena tugas kita adalah saling mengingatkan antar pribadi. Doakan dia agar kembali ke jalan Illahi. Mintakan kepada Allah SWT agar dosanya diampuni. Ajaklah dia dengan hikmah dengan kelembutan hati. Niscaya akan lebih mudah dalam menerima nasihat dan semakin semangat untuk memperbaiki diri.

Jika kamu melihat temanmu melakukan dosa jangan engkau malah menjadi teman setan mengalahkan dirinya; maksudnya, kamu katakan ya Allah, hinakanlah dia, laknatilah dia. Namun, mintalah kepada Allah agar dia peroleh ampunan.

(Abdullah bin Mas’ud)

Kritiklah Pernyataan, tapi Muliakan Penyampainya

Setiap orang berhak mengutarakan pendapatnya. Tapi tidak setiap dari kita setuju atau suka. Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk setuju dengan kita. Adalah hal yang wajar jika kita mempunyai pendapat yang berbeda.

Sampaikanlah perbedaan pendapat dengan adab yang mulia. Antara perbuatan dan pelaku adalah hal yang berbeda, begitu pula antara pernyataan dengan penyampainya. Maka hormatilah penyampainya, karena yang kita tanggapi adalah pernyataannya. Gunakan kritik untuk menanggapi pernyataannya, bukan penyampainya. Selalu ingat bahwa kita tidak selalu benar dan orang lain tidak selalu salah.

Pendapatku ini benar. Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, tetapi bisa jadi mengandung kebenaran.

(Imam Asy Syafi’i)

Ada berbagai hikmah dan makna dalam sebuah pernyataan. Ada berbagai sudut pandang dalam sebuah pemikiran. Dan itu semua bisa disampaikan, tanpa memandang siapa yang menyampaikan. Siapapun yang menyampaikan kebaikan, wajib kita terima dan dengarkan.

Jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan.

(Ali bin Abi Thalib)

Musuh Kita Adalah Penyakit, dan Bukan Penderitanya

Ibarat penyakit dengan penderitanya. Adalah perumpaan dari perbuatan dengan pelakunya. Kita membenci penyakit yang ada pada sesorang, tapi kita tidak benci kepada pribadinya. Bisa jadi orang tersebut adalah yang sangat kita cinta. Sehingga jika dia terkena penyakit, apakah dengan sebab penyakit tersebut lantas kita membencinya? Justru kita akan berusaha untuk membantunya, agar lekas sehat seperti sedia kala.

Begitu pula antara maksiat dengan pendosa. Antara pernyataan dengan penyampainya. Ibarat penyakit dengan penderitanya. Yang kita lakukan adalah membantunya untuk memperbaiki diri. Menolongnya untuk meninggalkan maksiat yang dijalani. Tunjukkan adab yang baik dengan muliakan dan sayangi.

Sehingga di saat seperti inilah seharusnya kita menjadi di antara. Penengah ketika yang lain terlalu jauh membenci para pendosa. Penengah sehingga tidak menghakimi sebelum mengetahui kebenaran yang nyata. Semoga kita bisa menjadi perantara bagi kawan yang saat ini masih membutuhkan penunjuk jalan kebaikan. Perantara bagi pendosa untuk bertaubat dari kemaksiatan.

Bencilah maksiat, tapi sayangi pendosanya. Kritiklah pernyataan, tapi muliakan penyampainya. Musuh kita adalah penyakit, dan bukan penderitanya.

(Ustadz Salim A. Fillah)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *